/ / / Optimisme Pelaku Pariwisata dalam menghadapi Pandemi COVID-19

Optimisme Pelaku Pariwisata dalam menghadapi Pandemi COVID-19

with No Comments
Spread the love

Setelah 7 bulan seluruh dunia berdampak pada pandemi Covid-19 yang tentunya memukul industri pariwisata. Bahkan membuat beberapa diantara kita penurunan daya beli bahkan memaksa menghentikan operasional bisnis. Menurut bu Dwi Ranny Pertiwi, Direktur Najma Tour dan Travel mengatkan bahwa selama pandemi ini, bisnisnnya mendapat guncangan yang besar. Bahkan kantor cabang beliau kini diubah menjadi café dan restaurant untuk mendapatkan penghasilan agar bisa menunjang kebutuhkan dasar perusahaan. Namun, Ranny percaya, setelah pandemi ini berlalu, operasional bisnisnya akan Kembali menggeliat seiring meningkatnya keinginan masyarakat untuk melakukan perjalanan wisata setelah berbulan-bulan diam di rumah saja. Oleh sebab itu, pelaku pariwisata saat pandemi mendapatkan berbagai cara untuk mensiasatinya

cara mensiasati saat pandemi Covid-19 ini

“Memang selama tujuh bulan ini bisnis travel sangat memprihatinkan, bahkan kami harus mengubah model bisnis kami, dari penyedia jasa wisata hingga jadi restoran dan café untuk bertahan. Tapi, kami tetap optimis, selepas pandemi ini, bisnis pariwisata akan menggeliat kembali. Bahkan, beberapa pelanggan saya pun sudah mulai menanyakan kapan kegiatan travelling bisa dilakukan, karena mereka juga sudah tidak sabar untuk bepergian”, ujar Ranny menjelaskan dalam Bincang Santai Perkumpulan Pariwisata Halal Indonesia (PPHI) Rabu (30/09).

Selain menjalankan bisnis di bidang perjalanan wisata, Ranny juga memiliki perusahaan produsen jamu dan obat tradisional yang justru mengalami peningkatan penjualan selama pandemi COVID-19 ini. Menurut Ranny, kondisi bisnis ini mengajarkan kepada kita bahwa semangat bisnis yang baik juga harus dibarengi dengan inovasi dan strategi bisnis yang baik pula.

“Tentu kita tidak berharap pandemi ini ada, tapi saya jadi belajar, karena COVID-19 ini, bisnis travel saya menurun drastis, namun bisnis jamu saya justru meningkat tajam. Dua hal ini tentu mengajarkan tentang strategi bisnis bagi kita semua”, ujar Ranny menambahkan.

Ranny yang juga menjabat sebagai Ketua Gabungan Pengusaha Jamu dan Obat Tradisional Indonesia ini juga membuka peluang kerjasama dan pengembangan usaha bagi pelaku pariwisata. Menurut Ranny, jika operasional bisnis pariwisata mengalami kemacetan selama COVID-19 ini, mungkin peluang untuk menjual produk jamu dan obat tradisional di jaringan yang dimiliki oleh pengusaha pariwisata tersebut bisa menjadi sebuah harapan.

“Untuk meningkatkan pendapatan, tentu bisnis jamu dan obat tradisional bisa menjadi perhatian bagi teman-teman pengusaha di bidang pawriwisata. Seperti yang kita lihat, saat ini permintaan produk jamu yang meningkatkan daya tahan tubuh sangat laris di pasaran!” Ujarnya meyakinkan.

Hal senada juga disampaikan oleh Ninik Irawan, Manajer Haji dan Umroh Kanomas Tour & Travel. Menurutnya, berbagai peluang pengembangan usaha di tengah gempuran pandemi ini menjadi alternatif bagi para pengusaha pariwisata untuk tetap bertahan dan optimis untuk bangkit kembali.

 

Potensi pariwisata di Indonesia masih meningkat

“Potensi di bidang pariwisata itu masih ada dan bahkan akan cenderung meningkat. Seperti penyelenggaraan Haji dan Umrah, saat ini saja, masyarakat Muslim Indonesia sudah tak sabaran untuk segera bisa melaksanakan Haji dan Umrah Kembali. Dan, dalam waktu dekat ini, Arab Saudi sudah akan membuka pintu bagi jamaah Indonesia” Ujar Ninik menjelaskan.

Sebagai penyelenggara perjalanan wisata yang sudah berpengalaman selama belasan tahun, Ninik yakin bahwa bisnis pariwisata akan Kembali menggeliat. Pelaku usaha harus menyiapkan strategi untuk menangkap peluang itu Kembali. Tentu, perilaku masyarakat selepas pandemi ini akan ada perubahan, dan pengusaha di bidang pariwisataharus bisa memenuhi tuntutan itu dengan baik.

“Misalnya saja, bagi jamaah Umrah dan Haji, selepas pandemi ini tentu mereka juga akan kita bekali dengan berbagai vitamin, alat pelindung diri, dan juga hand sanitizer sebagai sarana kebersihan. Bahkan tidak menutup kemungkinan untuk kami berkolaborasi dengan Ibu Ranny nantinya untuk bisa menyediakan jamu dan obat tradisional khas Indonesia yang dipercaya bisa meningkatkan daya tahan tubuh. Tentu hal ini akan sangat menarik!” Ujar Ninik bersemangat.

Perubahan perilaku konsumen ini juga menjadi perhatian oleh Noveri Maulana, Pengamat Bisnis dari PPM Manajemen. Menurutnya, perubahan perilaku konsumen tidak bisa dihindari dan penyedia jasa pariwisata harus bisa memahaminya dengan baik. Serangkaian strategi harus bisa disusun sejak saat ini, sehingga Ketika kondisi Kembali membaik, operasional bisnis pariwisata sudah mampu menjawab kebutuhan baru dari perilaku konsumen yang berubah ini.

“Misalnya saja, hotel-hotel menyediakan racikan rempah dan jamu tradisional Indonesia sebagai hidangan minum di bar dan café yang tersedia. Tentu hal ini akan semakin meningkatkan kenyamanan konsumen. Bahkan, untuk aspek pemasaran pun, Hotel dan  penyelenggara tour & travel bisa melakukan co-branding produk mereka dengan produk jamu yang tersedia. Tentu hal ini bentuk kolaborasi positif yang bisa dilakukan pengusaha lintas industri untuk bersama bangkit selepas pandemi ini!” Ujarnya menjelaskan.

Noveri juga menyoroti bagaimana strategi bertahan yang dilakukan oleh pengusaha. Menurutnya, portofolio bisnis yang dimiliki pelaku usaha juga harus semakin beragam, lintas industri, dan juga bahkan lintas keahlian. Jika portfolio bisnis yang dimiliki beragam, tentu dampak negatif pandemi ini bisa diminimalisir dan pelaku usaha masih bisa bertahan dengan sebagian opersional yang masih bisa dioptimalkan.

“Seperti strategi Ibu Ranny, kita tentu ingat istilah don’t put all your eggs in one basket. Pelaku usaha pariwisata harus bisa belajar dari kondisi saat ini, bahwa investasi bisnis yang mereka lakukan juga harus beragam, agar eksistensi bisnis dan pendapatannya tidak terancam. Jika satu usaha mandek, tentu masih ada usaha lain yang bisa dipertahankan!” Ujar Noveri menambahkan.

 

Kondisi pariwisata di tengah pandemi ini menjadi pehatian khusus dari pengurus Perkumpulan Pariwisata Halal Indonesia (PPHI) yang berupaya memberikan semangat dan motivasi bagi para anggotanya, insan pegiat dan pelaku bisnis pariwisata ramah muslim di Indonesia. Sadar dengan merebaknya pesimisme di antara pelaku usaha, PPHI senantiasa berupaya menyuntikkaan semangat untuk terus bersama dan saling menguatkan di tengah tantangan ekonomi di masa pandemi ini.

Melalui berbagai upaya koordinasi, kolaborasi, dan penguatan eksistensi, PPHI ingin menjadi wadah bagi pelaku usaha pariwisata lintas industri untuk mendorong terciptanya ekosistem bisnis yang baik, terutama dalam menunjang misi pariwisata ramah muslim di Indonesia. Salah satu upaya yang dilakukan ialah dengan menyelenggarakan rangkaian webinar untuk membuka peluang kolaborasi bisnis dan juga potensi pengembangan usaha. Karena PPHI yakin, bisnis yang kolaboratif bisa menjadi kunci untuk maju bersama di tengah gempuran pandemi ini.

“Kita yakin bahwa Janji Allah itu nyata. Di balik kesusahan, insyallah akan ada kemudahan. Dan kita ingin menebarkan semangat optimisme itu, bukan sekadar larut dalam pesimisme berkepanjangan. Karena itu, webinar ini kita adakan untuk membuka peluang kolaborasi bisnis, menambah insight bisnis baru, dan juga untuk meningkatkan silaturahmi dan motivasi bagi pelaku usaha di bidang pariwisata, terutama pariwisata ramah muslim di Indonesia” Ujar Riyanto Sofyan, Ketua Umum PPHI.

Webinar yang dihadiri oleh puluhan pelaku usaha di bidang pariwisata ini merupakan program kerja yang dilaksanakan oleh Dewan Pengurus Pusat PPHI sekaligus dalam rangkaian peyelenggaraan Indonesia Halal Tourism Summit yang akan dilaksanakan pada akhir Oktober mendatang.

 

Tertarik Untuk Bergabung Bersama Kami ?